Destiny Love
Semua kisah ini berawal dari sebuah
pertolongan tak terduga yang dia lakukan terhadapku menimbulkan dan memupuk
perasaan ku hingga berkembang menjadi perasaan tak terukur.
Perkenalkan namaku Anan,Dimas Anandito
Prawira dan ini kisahku, tentang hidup dan cintaku,
Solo, 21 Oktober,.......
Cuaca hari ini sangat terik membuatku
enggan pulang kerumah, tapi kan aku harus pulang,ah ini lah resiko belum di
ijinkan bawa motor ke sekolah oleh Bapak, ku susuri deretan bus yang berjajar
di terminal ini, dan ketemu itu bus yang menuju daerahku, saat aku naik hanya
ada satu kursi kosong tersisa, kursi di samping seorang gadis berjilbab,
‘ngapunten,...’kataku sopan,
dia mengangguk, lalu kami fokus pada dunia kami masing-masing, sampai akhirnya
kondektur bus mulai menarik uang pembayaran tiket, ya untuk bis AKDP tiket akan
di bayar di dalam bus, tunggu, tapi uang ku tak ada, Ya Allah, aku mulai panik,
kosong saku baju batik seragam SMA ku hari ini kosong, pun dengan celana ku, Ya
Allah, sedang panik-paniknya, gadis berjilbab di sampingku mengulurkan uang
sepuluh ribu pada kondektur yang sudah berdiri di dekat kami,
‘dua nggeh pak !’katanya
‘kalih pundi cah Ayu ?’balas
kondektur gendut itu,
‘kalih niki ‘jawab gadis itu
seraya menunjukku, ya Allah, dia menolongku bahkan walau aku tak meminta,
‘makasih sudah nolong saya’kataku
canggung, gadis itu tersenyum,
‘iya ndak papa, sesama harus saling
menolong’jawabnya lembut,
‘panjenengan turun pundi
?’tanyaku, dia tersenyum lalu berdiri,
‘ngajengan mriku’jawabnya
seraya berjalan menuju samping pintu bis, tak lama bis berhenti dan dia pun
turun,ah Ya Allah, bodohnya aku tak menanyakan namanya, biar bagaimana kan aku
di tolong olehnya.
Solo, 23 November ,........
Suasana di sini sangat ramai sekali,
iyalah ini kan pameran buku,
‘Hera, kamu jadi ndak tho ke
sini ?’ suara lembut itu, aku merasa familiar dengan suara itu,’aku udah di
sini lho Her,ya udah lah’katanya lagi, ku tolehkan kepalaku ke suara itu, benar
itu suara gadis berjilbab yang menolongku itu, sejak bulan lalu entah mengapa
aku sangat antusias mencarinya,
‘emh, permisi !’sapaku, dia menoleh,
lalu tersenyum,
‘hei ketemu lagi,
assallamuallaikum’katanya ramah,aku tersenyum, senang melihat senyumnya itu,
‘wallaikum sallam, sama siapa ke sini
?’tanyaku
‘sama temen niatnya, tapi dia malah
pergi sama pacarnya,’jawabnya,
‘eh, kita belum kenalan...’kataku, dia
menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya,
‘Ayudita’katanya, nama yang manis,
seperti sifat dan wajah orangnya,
‘Anan, ‘kataku, emh, jadi canggung mau
mulai obrolan lagi, aku tanya apa sekarang,
‘kamu sibuk ndak Nan, ?’tanya Ayu
duluan, aku menggeleng,niatku kesini memang hanya ingin melihat-lihat,
‘mau nemenin ke stand sana ndak
?’tanya Ayu,seraya menunjuk sebuah stand,
‘ya, ayo kalo gitu’jawabku sembari
mengikutinya, kami memasuki sebuah stand buku berisi, DETIK-DETIK UN SMA
IPA/IPS, hmm, BANK SOAL UN SMA IPA/IPS, Ayudita ini kelas berapa ya kok,
masuknya ke stand kayak gini,
‘mau cari buku buat siapa ?’tanyaku,
Ayudita tersenyum,
‘buat aku sendiri lah Nan, kan aku
udah kelas, dua belas’ sontak aku memandangnya tak percaya, gadis seimut ini
sudah kelas dua belas,
‘ndak usah kaget gitu, hhehe, badanku
kecil tapi aku udah tua lho’candanya, aku tersenyum mendengarnya,
‘emh, enggak kaget, jadi bingung mau
manggilnya gimana ‘jawabku jujur, Ayu tersenyum,
‘loh kenapa gitu ?’tanya Ayu bingung,
‘kan aku dua tahun lebih muda dari
Ayu,’jawabku jujur, Ayu membulatkan matanya,
‘loh lha itu tanda bintang di bahumu kok tiga ??’tanya Ayu, seraya
menunjuk bet di baju seragam OSIS ku,aku tersenyum memandangnya,
‘aku kan anak, kurang kerjaan
Yu,’jawabku,
‘maksudnya Nan ??’tanya Ayu lagi, aku
mesem, ragu menjawabnya,
‘aku kelas tiga karena ikut
akselerasi’jawabku lirih, kulihat Ayu tersenyum,
‘mau panggil Ayu ndak papa, Mbak juga
ndak papa, tapi mending Ayu aja’jawabnya okey baiklah, aku suka usul itu,
‘yakin nih, ndak papa tak panggil Ayu
aja ?’tanyaku
‘iya ndak papa kok’jawabnya
‘iya, oh iya Yu, ngomong-ngomong
makasih yang waktu itu, udah mau bayarin’kataku, Ayu tersenyum,
‘kan, aku udah bilang tho, ndak papa,
ndak usah di pikirin’kata Ayu seraya memilih-milih buku, gadis dengan
kepribadian yang sangat baik, ah belum pernah aku bertemu dengan gadis
berkepribadian sebaik dia,
‘makasih lho Nan, mau nemenin nyari
buku sebanyak ini’kata Ayu, di depan gedung pameran,
‘iya nggak papa, hati-hati pulangnya’
kataku, Ayu tersenyum lalu berjalan berlawanan arah denganku.
Aku tersenyum mengingat pertemuanku
dan perkenalaanku dengan Ayu tadi siang, manis, semua tingkah Ayu sangat manis,
tutur katanya sopan, dia menjaga dengan baik kedekatannya dengan lawan jenis,
tapi dia tidak membatasi pergaulannya,wajah imut dan senyumnya benar-benar
merebut perhatianku,eh, apa ini yang namanya cinta ? atau ini hanya perasaan
kagum ? ah entahlah, toh perbedaan umur kami dua tahun, aku jadi ragu
mendekatinya.
‘Nah lho ..... anak nya ibu lagi
mikirin siapa ?’tanya Ibu tepat di depanku,
‘ekhem .... enggak mikirn siapa-siapa
kok Bu,’kilahku, duh ampun bu, Anan bohong sama ibu,
‘duh, yakin ??,berarti bukan cewek
yang tadi kamu temenin keliling pameran buku kan ??’ tanya Ibuku menggoda,lho
tunggu kok Ibu tahu ya ??, aku langsung menatap Ibuku,
‘kok Ibu tahu ?’tanyaku dengan polosnya, Ibu
tersenyum lalu mengusap bahuku sejenak,
‘dia cantik lho Nan, sopan juga
kelihatannya,’katanya, emang sih bu, Ya Allah,ternyata aku memang tak salah
menilai tentang Ayu,
‘tuaan dia dua tahun Bu, dari
Anan’kataku, Ibu langsung duduk di sampingku mendengarnya,
‘emang kenapa kalo dia lebih tua dari
kamu ?’tanya Ibu, aku menggeleng,
‘enggak kenapa-kenapa bu, Anan itu
nggak sedeket itu sama Ayu, Anan sama Ayu Cuma kenal biasa, bukan kenalan
spesial’jawabku, kali ini jujur dan benar,
‘wah, ibu kirain Anan bakalan pacaran
sama siapa itu namanya, Ayu itu,’kata Ibu seraya berdiri meninggalkanku ke luar
kamar,Ibuku ini aneh-aneh saja, aku kan masih SMA kenapa ngebet banget pengen
anaknya punya pacar, lha wong diriku sendiri masih pengen santai-santai nggak
pengen mikirin cewek dulu, yah setidaknya begitu sebelum ketemu seorang
Ayudita.
Solo,02 Mei, ................
Hari ini pengumuman kelulusan kelas
dua belas, jadi teringat sama Ayu, gimana kabarnya sekarang ya, terakhir kali
aku ketemu dia bulan Januari lalu, di dekat alun-alun, saat acara tahun
baru,yah hanya sekedar tegur sapa saja sebenarnya,
‘ Anan !!’ Fikri teman sebangku ku
mengguncangkan bahuku dengan kuat,
‘opo ?’tanyaku jutek, aku
sedang malas bicara hari ini,
‘diih galake bro,cuman mau nanya
aja,’sahutnya,
‘nanya apa ??’tanyaku
‘udah liat pengumuman mading
?’tanyanya,ah apa-apaan pertanyaan Fikri itu,
‘belum,’ jawabku sekenannya,
‘lho berarti kamu belum tahu hot news
dong !’katanya nyinyir,
‘hot news opo ?’tanyaku
malas-malasan
‘lah, Nan, dirimu kan lulus dan dapet
nilai tertinggi’jawabnya, nha ini baru namanya Hot News, aku kan ikut ujian
cuman asal-asalan kenapa hasilnya malah bagus.
Aku memandang ponselku ragu, bagaimana
caranya memberitahu Bapak soal, Nilai UN-ku, aduh, jujur sebagai anak
laki-laki, aku terlalu takut bicara dengan Bapak, baiklah sudah ku putuskan,ku
tekan nomor Bapak,
‘Assallamuallaikum..’sapaku duluan,
terdengar deheman di ujung sana,
‘Waallaikumsallam, apa Le ?’tanya
suara itu tegas,
‘Pak, Bapak pulang ke Solo nya kapan
?’tanyaku, hening disana,
‘dua minggu lagi juga Bapak
pulang’jawabnya
‘kalau di cepetin jadi Senin depan
bapak udah di rumah gimana ?’tanyaku hati-hati,
‘emang mau ada apa ?’tanya Bapak,
‘emh .... jadi gini Pak, Anan kan udah
lulus Pak,terus wali nya harus hadir buat pengambilan Ijazah, jadi bapak bisa
pulang ndak ?’tanyaku hati-hati,
‘oh gitu, ya nanti Bapak, usahain
pulang secepatnya,’balasnya, fiuh, lega mendengarnya,ya, hubunganku dengan
Bapak tidak sebaik hubunganku dengan Ibu, kenapa ? jawabannya karena Bapak
jarang ada di rumah, pekerjaannya tidak memungkinkannya untuk ada di rumah
dalam waktu lama, Bapakku seorang Polisi, saat ini ia sedang bertugas di
Pontianak, sebagai seorang KAPOLRESTA di sana, jangan tanya kenapa Ibu, aku dan
Kakak laki-lakiku serta adik perempuanku tak ikut Bapak di Pontianak, karena
Kakekku sayang tidak pernah mengizinkannya.
‘iya pak ! Assallamuallaikum’jawabku
hormat,
‘Waallaikumsallam’ dan flip sambungan
kami terputus,
Solo, 2 Juni,........
Bapak duduk di depanku dengan tatapam
tajamnya yang sangat mengintimidasi, ‘jadi setelah lulus ini, kamu mau kemana
?’tanya Bapak tegas, nah ini, aku bingung harus menjawab bagaimana,
‘Anan, belum tahu Pak...’jawabku jujur,
Bapak menghela nafasnya,
‘mau kuliah atau bagaimana, atau mau
santai dulu ??’tanyanya,
‘emh ... kalau Anan ke Semarang aja
gimana ?’tanyaku hati-hati, Bapak menatapku ragu,
‘maksudnya Semarang ??’tanya Bapak,
‘Anan masuk AKPOL saja,....’putusku,
Bapak menarik nafasnya,
‘okey, kamu ke Semarang !!’katanya
setuju,
Jujur ini keputusan yang ku ambil
tanpa ku pertimbangkan, aku tahu Bapak berharap ada salah satu diantara aku dan
Mas Ardi, kakakku, menjadi Abdi Negara, sayang Mas Ardi punya keputusan lain
untuk masa depannya, dan Bapak kecewa karena keputusan Mas Ardi itu, aku bisa
melihatnya setiap saat, ketika Bapak dan Mas Ardi, kakakku yang saat ini sedang kuliah itu bertemu akan ada
pancaran kekecewaan itu dari mata Bapak, dan aku tak ingin melihatnya lagi.
‘wah, Nan ..... kamu mau masuk AKPOL
?’tanya Mas Ardi yang rambutnya sudah gondrong sekarang, aku mengangguk
mendengarnya, Ajeng adikku menatapku tak percaya,
‘Mas masuk Aksel cuman buat jadi
Polisi ??’tanyanya, aku tersenyum lalu mengangguk mantap,
‘yah good job ya Le !!’kata Mas Ardi
santai aku tersenyum segaris mendengarnya,
Yah berarti kalau aku ke Semarang aku
tak akan bertemu lagi dengan Ayudita, heuh, gadis sholehah dan cantik itu
sepertinya hanya akan menjadi kenangan buatku, kenangan cinta pertama seorang
Anan.
( 7 tahun kemudian)
Banjarmasin, 23 Januari,....
Mataku langsung terjaga begitu pintu
ruanganku bergeser,
‘Siap !! Komandan ! ada perintah
untuk saya ??’seorang anak buahku sekaligus adik asuhku, berdiri dengan siap di
depanku,
‘Rul, saya mau pulang tapi saya
ngantuk dari pada nanti di jalan kenapa- kenapa ... kamu sopiri saya sampai asrama !’kataku pada Fahrul, yah
tak apa toh ini sudah jam pulang,
‘iya kak !’jawabnya pasrah, heuh
jangan heran kenapa aku yang notabene sudah menjabat KASAT RESKRIM ini masih
tinggal di Asrama, ya jawabnya sudah pasti karena aku belum menikah, aku yang
masuk AKPOL sebagai taruna termuda, dengan program pendidikan tercepat yaitu
dua tahun dan menjabat sebagai seorang KASAT RESKRIM dalam tempo karir lima
tahun, menurut orang-orang itu sangat mengagumkan namun buatku, itu bukan hal
luarbiasa, tak ada yang spesial, jadi jangan salahkan aku yang massih membujang
hingga saat ini.
‘Mukamu kenapa Bang ?? kau tekuk
terus itu muka dari tadi ?’tanya Fahrul
‘nggak kenapa-napa aku ini, kau saja
yang terlalu kepo !!’balasku cuek,
‘ku kira kau kebelet pengen kawin
bang !’sahutnya,
‘bah .... aku masih muda Rul, belum
kepikiran aku soal itu,...’jawabku cuek
‘iya Bang, tahu aku kau masih muda,
kau dan aku pun tuaan aku lah’ yah dia benar soal itu, usianya sudah 25 tahun
tapi nyatanya aku yang baru 23 tahun
malah menjadi atasannya,
‘kau ini Rul ....’kataku malas,
Fahrul terkekeh,
‘eh Bang, aku kok baru tahu ya kalau
kau ini anaknya KomJen Prawira ,...’kata Fahrul, satu lagi tak ada satupun
orang yang tahu kalau Bapakku adalah seorang Jenderal berpangkat tinggi, mereka
baru tahu siapa latar belakang ku beberapa bulan ke belakang saat kenaikan
pangkatku,
‘buat apa kau tahu juga !’kilahku,
‘yah Bang, bukan buat apa-apa sih !’
cebiknya, aku terkekeh,
‘eh Bang ? ku dengar kau cuti pulang
ke Solo ya seminggu ?’tanya Fahrul lagi,
‘iya, aku di suruh pulang mendadak
sama Ajeng ‘jawabku, mata Fahrul berbinar,
‘kalau macam itu, bisa tidak mobilmu
ku pinjam dulu ?’pintanya
‘iya boleh asal kau kasih makan saja
mobilku ini !!’sahutku, Fahrul terkekeh lalu menunjukkan jempolnya tanda
setuju.
Ku pandangi tas ranselku dengan ragu,
sejak adikku Ajeng, meneleponku dengan suara kalut kemarin, pikiranku jadi tak
tenang, huh yang jelas ada yang sedang terjadi di rumah, entahlah apa, namun
ini pasti berkaitan dengan Mas Ardi.
Solo, 24 Januari, ......
Taksi yang membawaku dari Bandara Adi
Sucipto, berhenti tepat di depan pagar rumah, sepi, itu yang ku rasakan, aura
tak mengenakkan mulai ku rasakan di sini.
‘Assallamuallaikum ...’kataku seraya
memencet bel rumah,
‘Waallaikumsallam,..... Mas Anan ?’
Ajeng, adikku menghambur memelukku, ada apa ini ?? ku lihat lingkaran hitam di
sekitar matanya, tanda ia tak tidur semalaman.
‘dek ? kamu kenapa tho ?’tanyaku,
Ajeng menggeleng lalu menggeser badannya dari depan pintu dan membiarkanku
masuk ke dalam,
‘Mas Anan istirahat dulu nggeh Mas,
Ajeng siapin makan’kata Ajeng mencoba menghindariku,
‘Dek, Ibu sama Bapak dimana
?’tanyaku, Ajeng mengigit bibir bawahnya,
‘Mas, Ibu sama Bapak, lagi di rumah
sakit...’ jawabnya, DEG !! Ya Allah, apa ini ?
‘siapa yang sakit dek ?? Bapak kambuh
jantungnya ? atau Ibu kecapekan ?’berondongku, Ajeng menggeleng mendengarnya,
‘Mas Ardi, Mas, Mas Ardi kecelakaan
......’jawabnya.
Aku berjalan dengan tergesa di lorong
rumah sakit ini, Ajeng, ah adikku itu sudah jauh tertinggal ke belakang yang
jelas, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Ardi.
‘Pak !?’kataku seraya mencium
tangannya takzim, Bapak sedikit terkejut melihatku lalu menarik nafasnya berat,
‘Buk ?’kataku seraya memeluk tubuh
ringkih Ibuku, wanita luar biasaku itu tersenyum,
‘kapan nyampe Le ??’tanya Ibu,
‘tadi siang bu,........’jawabku, ku
lihat Mas Ardi terbaring lemah di ruang rawat intensif,
‘Pak, Mas Ardi kenapa ??’tanyaku,
Bapak melirik Ibu sejenak, lalu memberiku isyarat untuk mengikutinya.
‘gimana kerjaanmu di Banjarmasin
?’tanya Bapakku,
‘baik pak,.... kemarin seminggu full
di bikin pusing kasus penculikan...alhamdullillah, sekarang udah selesai
kasusnya’jawabku, Bapak tersenyum, namun dari manik matanya, aku bisa tahu
bahwa Bapakku sedang sedih dan marah secara bersamaan.
‘Pak,...emh...’aku sedikit ragu
menanyakannya,
‘heuh ... Masmu, bikin ulah lagi Nan
...’kata Bapak,
‘apa pak ?? kebut-kebutan lagi ??
atau percobaan bunuh diri ?’tanyaku, Bapak menggeleng,
‘kamu tahu kan, kalau Mas mu, Bapak taarufkan
sama anak sahabat Bapak’kata Bapak, iya aku tahu hal itu, walau aku tidak tahu
siapa gadis itu,
‘tapi, Masmu bikin kesalahan fatal
Nan...’ hatiku rasanya menerima hantaman benda kuat, rasanya seperti tertohok
berulang kali,
‘kesalahan apa Pak ??’ tanyaku, Bapak
menggiringku ke sebuah ruangan rawat lain,
‘lihat !! ‘katanya seraya menunjuk
seorang wanita sebaya Mas Ardi yang terbaring dengan luka-luka,
‘dia siapa Pak ?? calon istrinya Mas
Ardi ?’tanyaku, Bapak menggeleng,
‘Wanita itu, korban ke khilafan
Masmu’ DEG !! jantungku rasanya kembali di tohok,
‘dia anak sahabat bapak ?’tanyaku dan
Bapak menggeleng,
‘Wanita itu hamil anak Masmu, Nan,
dan Bapak binggung harus bagaimana menghadapi sahabat Bapak’kata Bapakku getir,
Ya Allah Mas Ardi, beban apalagi Mas yang kau timpakan pada Bapak, tak tahukah
kau Mas bahwa Bapak sangat menyayangi mu melebihi padaku dan Ajeng.
‘kita bicarain baik-baik pak, sama
saahabat Bapak’kataku, Bapak menghela nafasnya, lagi,
‘Mau di taruh dimana muka Bapak Nan
?? demi Mas mu, dia rela nolak lamaran untuk putrinya yang datang dari banyak
pria baik dan apa yang di lakuin masmu Nan, Ya Allah ‘ ku rasakan deru nafas
bapakku turun naik menahan marahnya,
‘selalu ada jalan keluar pak,’kataku,
bapak masih tak bergeming,
‘Pak, besok kita temui sahabat bapak,
kita katakan sejujurnya, lalu kita cari jalan keluarnya pak’kataku seraya
membimbing Bapak pelan-pelan.
Solo,25 Januari,.....
Sudah hampir lima belas menit Bapak
dan sahabatnya saling berdiam diri, sejak mengutarakan maksud kedatangan kami
tadi, kedua orang tua ini, langsung saling diam, bergelud dengan pikiran mereka
masing-masing meninggalkanku dalam dunia nyata sendirian.
‘Jadi di sini nama baik kita kan Wir
taruhannya,...’teman Bapak memulai percakapan, Bapak melirikku, rasanya ingin
menangis aku melihat tatapannya, haruskah ku utarakan pikiranku, sepertinya
iya,
‘Pak, Pakdhe maaf kalau menyela
...’kataku mereka mamandangku bebarengan,
‘gimana kalau, yang nikah sama
anaknya Pakdhe, Anan saja ....’kataku, lagi, uh Anan goblok, kenapa kamu harus
ngelakuin hal kayak gini tho Nan,
‘Nan, ... kamu ngomong apa ?’ sergah
bapak,
‘bismillah..... Pak, ini kesalahan
Mas Ardi kan, kesalahan keluarga kita, di sini bukan cuman nama baik Bapak yang
tercoreng kalau sampai rencana ini Batal, keluarga Pakdhe juga bakal malu
Pak’kataku, Bapak terdiam mendengarnya
‘Lagi pula, Anan yakin ini jalan
terbaik buat semua pihak....’lanjutku,
‘maksudmu apa tho Le ?’tanya Pakdhe
Sujono, Sahabat Bapak itu,
‘Pakdhe kalau pakdhe takut, hal yang
di lakukan sama Mas Ardi berulang lagi, Pakdhe pegang janji saya, kalau saya
nggak bakal kayak gitu’kataku, Pakdhe Sujono merangkul bahuku,
‘terima kasih, Le, tapi sebaiknya
Pakdhe tanyakan dulu sama anak Pakdhe’katanya Bapak dan aku mengangguk.
‘Nan, mau sampai kapan kamu bakal
terus nutupin kesalahan Masmu ??’tanya Ibu setelah mendengar cerita bapak
mengenai usulku, aku tersenyum,
‘lho lha emang Anan ngapain tho Bu ?
lagi pula nggak ada salahnya kan Anan nikah, toh Anan sudah siap kok nikah,
semua kan udah ada bu, tinggal calonnya’candaku, Ibu tersenyum getir menatapku.
Banjarmasin, 1 Februari,......
‘kalau bisa, patroli di tingkatkan,
soalnya saya baru dapat laporan kalau sering terjadi tawuran akhir-akhir
ini’instruksiku pada bawahanku,
Aku sudah kembali ke Banjarmasin,
jangan tanyakan soal rencana nikah itu, Pakdhe Sujono mengatakan pada Bapak,
bahwa Putrinya setuju dengan usulku, gadis yang usianya ternyata lebih tua dari
ku dua tahun itu mengatakan pada Bapak kalau dia sudah sholat Isthikarah dan
menurutnya menerimaku adalah pilihan terbaik, soal Mas Ardi, dia sudah keluar
dari rumah sakit dan untuknya, Bapak dan keluarga wanita itu sepakat menikahkan
mereka bulan depan, dan sudah ku putuskan aku tak akan pulang lagi, itu wujud
kekesalanku pada nya biar saja.
‘Komandan !! ngelamun ya !!’Fahrul
mengetuk mejaku,
‘yeuh ... manusia demit satu ini
lho.... ganggu saja...’sahutku,
‘ah komandan setiap pulang dari Jawa
pasti seneng ngelamun, pasti di tuntut buat nikah ya !!’godanya,
‘berisik banget Rul !!’omelku, Fahrul
berlalu meninggalkan ruanganku dengan cuek.
Drrrrtt...Drrrtttt....Drttt...
Ponselku yang ada di atas meja
bergetar karena panggilan masuk, ‘MAS ARDI’ nama itu tercetak sangat jelas di
sana, heuh, maaf Mas, aku sedang malas bicara denganmu, ku dial panggillannya.
Semenjak tahu aku mengantikannya menikahi anak sahabat Bapak, Mas Ardi memang
getol menghubungiku, namun aku malas meladeninya.
Banjarmasin, 26 April ,......
Seminggu yang lalu aku di kejutkan
dengan kunjungan mendadak dari Bapak, Ibu dan Ajeng ke Banjarmasin, bayangkan
saja mereka datang, mengumumkan mengenai pernikahanku di Asrama Bujangku, ya
tanggal pernikahanku dengan anak Pakdhe Sujono memang sudah di tentukan, satu
minggu dari sekarang tepatnya, dan Besok, aku sudah harus pulang lagi ke Solo,
kalau aku tak pulang besok, maka bisa di pastikan, Ibu dan Ajeng akan
menyeretku dari sini.
‘Wah ... Pak Anan kejar taget terus
mentang-mentang besok sudah harus cuti,
lembur terus’goda Atasanku, pak Wahid,
‘iya ini Pak, kan besok saya sudah
harus pulang, bisa-bisa Ibu sama adik saya menyeret saya pak kalau saya tidak
segera pulang ke Solo’jawabku, Pak Wahid tersenyum,
‘Bang !! kau kejam kali padaku, tega
kali kau tak mengajakku ke Solo’kata Fahrul saat membantuku mengepak baju yang
akan ku bawa ke Solo.,
‘Cuma ijab qobul, ndak ada resepsi
mewah,... kalau mau kenalan sama dia kapan-kapan saja’sahutku, Fahrul mendengus
mendengarnya.
Solo, 27 April,.....
Aku sudah tiba di Bandara ini setengah
jam yang lalu, dan mana orang yang katanya mau menjemputku,
“maaf permisi, Mas !!’seorang gadis
berjilbab menghampiriku dia terlihat begitu panik, tapi aku familiar dengan
wajahnya,
‘ada yang bisa saya bantu ?’tanyaku,
‘Pesawat dari Banjarmasin sampun
landing ??’tanyanya,
‘sampun ...’jawabku, dia menepuk
jidatnya,
‘memang mau jemput siapa ?’tanyaku,
dia menoleh padaku,
’calon suami saya ...’jawabnya, aku
ber-oh-ria mendengarnya, dia mengeluarkan handphone-nya lalu menelepon
seseorang,
‘Pakdhe Wira, sampun landing niku
pripun ??’tanyanya pada seseorang, tunggu siapa tadi, Pakdhe Wira, bapakku kah
??,
‘kulo kan mboten ngertos Dimas
Anandito niku sing pundi ....’sahutnya, hei itu namaku,. Dia menghela nafasnya,
lalu mematikan teleponnya,
‘kamu nyari Dimas Anandito Prawira
??’tanyaku, dia kembali menoleh lalu mengangguk,
‘itu aku ...’sahutku, reflek dia membekap
mulutnya dengan tangan kanannya,
Gadis itu duduk di sampingku dalam
mobil, sedari tadi dia terus menerus mengigit ujung kukunya, malu mungkin,
‘emh ... maaf tadi aku ndak tahu
...’katanya, aku tersenyum,
‘iya ndak papa kan, kita juga belum
pernah ketemu ...’jawabku,
‘lha kamu beda banget sama kakakmu
kirain kalian mirip eh ternyata ..’katanya terpotong,
‘aku kenapa ?’selidikku, dia
meringis, ‘lebih cakep’lirihnya yang sukses membuatku terkikik geli,
‘kamu kerja di sini ?’tanyaku, dia
mengangguk, ‘aku akuntan bank, tapi kata Bapakku aku harus resign setelah nikah
sama kamu, emh .. maaf tapi kerjamu apa ya ?’tanyanya polos, jadi dia belum
tahu profesiku rupanya,
‘aku ?? emh .... abdi negara
...’jawabku, dia terlihat berpikir, lalu, matanya membulat seolah menemukan
puzzle,
‘kamu polisi ?’tanyanya, aku
mengangguk, gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tunggu dulu setelah ku
pikir-pikir dia memang mirip Ayudita, tapi apa mungkin dia Ayudita, andaikan
benar, aku pasti akan sangat mensyukuri takdir ini.
‘Den .... ini nganterin aden dulu apa
mbak nya ??’tanya Mas Wando, sopir pribadi bapak,
‘ngganter dia dulu Mas,...’jawabku,
selama perjalanan menuju rumah Pakdhe Sujono, kami habiskan dalam diam,
‘Hati-hati ...’kata gadis itu sebelum
ku tutup pintu mobilku.
‘lho .... kok sendirian ... calon
istrimu mana ?’tanya Pakdhe Nur, kakak Bapakku, yang tinggal tepat di depan
rumahku.
‘udah Anan, anterin pulang tadi
...’jawabku seraya terus naik ke lantai dua menuju kamarku, badanku rasanya mau
patah, ku rebahkan badanku di ranjangku, tunggu rasanya ada yang berubah dengan
ranjangku, aku kembali menegakkan badanku dan ku dapati, tempat tidurku sudah
berubah menjadi ranjang king size,
Tok ... Tok .... Tok ....
Ajeng menyembul dari balik pintu, ‘Mas
... di suruh turun makan dulu sama Bapak ....’katanya,
‘nanti ya, Mas mau tidur dulu sebentar
....’sahutku,
‘aduh ... komandan buruan deh ah
!!’kata Ajeng seraya mendorong tubuhku, keluar dari kamarku, di ruang makan,
nampak formasi lengkap keluargaku, Bapak duduk di ujung meja, di samping
kanannya duduk Ibu, lalu Ajeng di seberang Ajeng, ada, emh .... Mas Ardi serta
Mbak Mira, istrinya, sekaligus kakak iparku sekarang.
‘kamu udah ketemu sama Ayu ?’tanya
bapak, heuh, Ayu ??
‘Ayu siapa ?’tanyaku, Ibu yang sedang minum hampir tersedak minumnya
sendiri,
‘Ayu itu calon istrimu tadi lho Nan
!!’kata Bapak jengkel, aku hanya ber-oh ria mendengarnya, tunggu siapa tadi Ayu
? jadi teringat Ayudita lagi, ah Nan ... berhenti memikirkan wanita lain, kau
sudah hampir menikah.
Solo, 4 Mei .......
‘Anan
!?’ ku dengar suara Mas Ardi memanggilku,
‘kenapa Mas ?’tanyaku, Mas Ardi tersenyum,
sudah sangat lama aku tak melihatnya,
‘maaf, Nan ...’katanya,
‘ndak papa lho Mas, udah jangan di
bahas’kataku lirih, hampir tak terdengar,
‘Semoga sukses dengan Ijab qobulmu ya
dek !’katanya, ya hari ini pernikahanku dengan anak Pakdhe Sujono, ah tidak
nanti aku akan memanggilnya Bapak juga,
‘iya Mas ....’jawabku, aku nerveous ?
jawabnya iya karena sampai hari ini aku belum tahu nama panjang Ayu, calon
istriku itu, terdengar gila memang tapi mau bagaimana lagi, itu kenyataannya.
‘sudah siap le ?’tanya Bapak, aku
mengangguk lalu mengikuti Bapak memasuki rumah Pakdhe Sujono,
Pakdhe Sujono mengulurkan tangannya
padaku,
‘Saya nikahkan engkau, Dimas Anandito
Prawira bin Prawira Sarmoyo dengan anak saya Amalia Ayudita Sujono binti Sujono
dengan mas kawin seperangkat alat sholat
di bayar tunai’ Ijab Pakdhe Sujono,
‘Saya terima nikahnya, Amalia Ayudita
Sujono dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai ‘ucap Qobulku lancar dan dalam
satu tarikan nafas, ‘SAH !’terdengar gema sah di telingaku, namun sekarang ada
yang menggangguku, nama lengkap Ayu menggangguku, Amalia Ayudita, Ayudita, emh
,... mengingatkanku pada Ayudita, baiklah aku mulai yakin kalau Ayu istriku
adalah Ayudita cinta pertamaku, huh takdir memang benar-benar tak terduga.
‘Pak .... kalau besok Ayu, Anan boyong
ke Banjarmasin gimana ?’tanyaku malam itu di teras rumah, Bapak, dan Ayah
mertuaku memandangku kaget,
‘Kok mendadak gitu Le ?’tanya Ayah
Mertuaku,
‘Kantor sedang sibuk..... ada kasus di
unit nya Anan, dan yah Anan kan punya tanggung jawab besar Pak ....’kataku,
Bapak dan Ayah mertuaku saling pandang,
‘sebaiknya tanya sama Ayu dulu
...’kata Bapakku, aku mengangguk lalu berlalu menuju kamarku di lantai dua,ku
ketuk pintunya pelan,
‘iya sebentar ...’suara lembut Ayu
menyahut dari dalam,
‘Yu, ini aku ...’kataku, dan Pintu pun
segera terbuka, Ayu masih mengenakan kebaya resepsi tadi sore,
‘Bapak udah pulang tho ..?’tanya Ayu,
aku mengangguk lalu mendudukkan diriku sendiri di tepi ranjang,
‘Emh .... Yu, Unit di kantorku sedang
ada Kasus, dan aku mesti balik besok, kamu mau ikut aku ke Banjarmasin besok, atau
di sini dulu dan aku jemput lagi ?’tanyaku hati-hati, Ayu terlihat terkejut
mendengarnya,
‘Ayu ikut ke Banjarmasin, lagi pula
Ayu kan udah keluar dari kerjaan Ayu’jawabnya, aku tersenyum mendengarnya, dia
balas tersenyum sangat manis senyum yang
sama seperti senyum Ayudita yang tujuh tahun lalu tersenyum padaku.
Banjarmasin, 5 Mei, ......
Saat tadi siang di antar ke Bandara
Adi Sucipto, Ayu masih terlihat baik-baik saja, namun sekarang, aku melihat
tatapan sendu Ayu, mungkin ia masih belum terbiasa berada jauh dari
keluarganya.
‘Komandan !!’kudengar pekikan suara
Fahrul, aku dan Ayu menoleh bersamaan,
‘itu siapa ?’tanya Ayu kebingungan,
‘itu Fahrul, anak buahku ...’jawabku
seraya tersenyum padanya,
‘Rul, kenalkan ini istriku ...’kataku
seraya meraih pundak Ayu, ku rasakan Ayu menegang, ini tak salahkan, toh dia
istri sahku,
‘Wah .... Nyonya Anandito nih ye
....’goda Fahrul, Ayu tersenyum menanggapinya,
Fahrul mengantar kami sampai di depan
rumah, rumah dinasku tepatnya, harusnya aku memang menempati rumah ini sejak di
angkat menjadi KASAT RESKRIM, dan aku baru menempatinya sekarang, karena akan
ada yang mengurus rumah ini, alias aku sudah menikah.
‘Yu... kamu ku tinggal dulu nggak papa
kan ??’tanyaku, Ayu mengangguk, sedikit tak tega sebenarnya harus meninggalkan
Ayu sendirian tapi apa boleh buat sejak kemarin kasus ini benar-benar membuat
pusing unitku dan aku juga harus segera turun tangan.
‘Hati-hati ....’katanya seraya mencium
tanganku, ada buncahan perasaan tak terduga yang di suarakan jantungku.
Banjarmasin, 4 Juni, ....
Sudah hampir satu bulan, aku dan Ayu
menikah dan jangan berpikir hubungan kami, seperti layaknya pengantin baru
lainnya, sebulan ke belakang, aku di buat sibuk dengan kasus-kasus yang tak ada
habisnya, dan hampir tak ada waktu untuk tinggal di rumah bersama Ayu.
‘Komandan hari ini pulang cepat
??’tanya Fahrul,
‘Iya, aku kasihan sama Ayu
terus-terusan ku tinggal sendirian...’jawabku,
‘Ah ..... Komandan kangen istri
rupanya ....’godanya, manusia jahil satu ini, ckck,, kapan dia bakalan tobat,
‘sudah aku balik dulu ...’kataku
seraya menyambar kunci mobil,
Menjelang Maghrib aku baru sampai di
rumah, jangan tanya kenapa baru sampai rumah padahal aku sudah keluar dari
kantor sejak habis ashar, jawabnya adalah karena aku mampir membeli sesuatu
untuk Ayu, anggap saja penebus kesalahanku meninggalkannya terus akhir-akhir
ini.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ku ketuk pelan pintu rumah sederhana
jatah dinasku, ‘Assallamuallaikum ...’kataku,
“Waallaikumsallam ,...’jawaban lembut
di sana sukses membuat hatiku jumpalitan tak karuan,
‘mau makan dulu atau mandi dulu ? Ayu
udah rebusin air panasnya kalau mau mandi dulu ...’katanya seraya menyambut tas
kerjaku dan mencium tanganku takzim, selama sebulan ini aku tahu dia memang
istri idaman, pandai mengurus rumah dan masak pun enak di tambah rajin
beribadah.
‘ambilin air minum dulu ya,....’kataku
seraya duduk di sofa ruang tamu, dan melepas sepatu, Ayu melenggang menuju
dapur lalu tak lama kembali seraya membawa teh manis, untukku,
‘Yu.... sini dulu ... temenin aku
duduk sini ...’kataku seraya menepuk sisi sofa di sampingku yang kosong,
‘Ada apa ?? ada masalah penting ya
?’tanyanya kalut, ku ulurkan kotak kecil yang ku beli tadi sore,
‘ini apa ??’tanyanya bingung, aku
tersenyum seraya membuka kotak itu, Ayu membekap mulutnya dengan kedua tangan,
terkejut mungkin, entahlah,
‘buat kamu ini ... maaf ya sebulan
ini, aku sibuk terus,’ kataku, dia masih terlihat shock dengan hadiah
pemberianku, sebuah kalung ,
‘jelek ya Yu ?? maaf deh kalau kamu
nggak suka, kapan-kapan aku ajakin deh kamu biar kamu bisa milih sendiri,...’
kataku lirih, aku was-was melihatnya sejak tadi tak bersuara takut dia tak suka
dengan hadiahku, BRRUKK !! Ayu menghambur memelukku, ini pertama kalinya dia
memelukku, lha wong malam pertama saja nggak ada acara peluk-pelukkan, hush
Anan, itu kan rahasia perusahaan,
‘Yu .... kenapa ??’ tanyaku bingung,
dia tidak sakit apa menyurukkan wajahnya ke baju dinasku yang penuh dengan
emblem kecil-kecil,
‘makasih .... aku kira kamu ndak suka
punya istri lebih tua dua tahun dari kamu ...’tangisnya, hei apa-apaan ini, aku
nggak kayak gitu, apalagi kan Ayu ini first love ku, duh Anan, mulutmu ember
banget ternyata, hehehe, Iya benar sekali Ayu memang Ayudita ku dulu, aku sudah
mengkonfirmasinya pada ayah mertuaku.
‘lho ... Yu ... aku kan nggak bilang
kayak gitu, siapa yang bilang coba, duh Yu, kamu negatif thingking tahu
...’sahutku, seraya mengusap punggungnya, Ayu masih terisak di pelukanku,
‘itu POLWAN-POLWAN cantik itu yang bilang
... hiks .... hiks.... katanya kamu jarang pulang karena lebih seneng sama anak
buahmu yang cantik-cantik dan muda-muda ....’ceritanya, kalau saja Ayu tidak
sedang menangis, aku sudah terbahak pasti mendengarnya, jelas saja mereka
mengatakan begitu siapa yang akan rela kalau polisi seganteng dan semuda aku begini sudah menikah,
‘kamu percaya nggak sama aku
??’tanyaku, Ayu mengangkat wajahnya dari dekapanku,
‘percaya, tapi kan lama-lama was-was
juga ....’katanya sewot, cemburukah dia ??
‘aduh Ayu ...... dari awal masuk
taruna aku pasti udah cari pacar Yu kalau aku mau, tapi gara-gara kamu aku jadi
nggak punya pacar lho ...’kataku, Ayu menatapku bingung,
‘kok Ayu yang salah ...??’ tanyanya,
‘Yu, kamu inget nggak pernah keliling
pameran buku sama cowok ... dia lebih muda dari kamu lho, atau kalau enggak
anak cowok yang kamu bayarin bis nya deh ??’tanyaku, Ayu menggeleng dengan
ragu,
‘anak cowok itu tuh aku lho Yu ....’sahutku,
istriku ini terlihat terkejut mendengarnya,
‘terus hubungannya sama nggak pernah
punya pacaran apa ??’tanyanya lagi, ku genggam tangannya lalu ku tuntun pada
dadaku yang bergemuruh karena dia,
‘karena di dalam sini, berdetak empat
kali lebih hebat kalau ada di deketmu ...cuman sama kamu lagi kayak gitunya’ kataku,
‘dari awal, aku udah sayang sama kamu
Yu, cuman karena aku nggak berani bilang ya udah aku nggak pernah bilang soal
perasaan aku ke kamu dan mengejutkannya, kamu sekarang jadi istri ku’ kataku
‘Mas !! ....’ DEG !! Ayu memanggilku
apa ? Mas ? aku tak salah dengarkan,
‘eh iya Yu ...’jawabku gugup,
‘aku juga sayang sama kamu ...’katanya
serasa membuatku melayang-layang,
‘nggak papa kan Ayu bilang gitu dan
manggil Mas ...!!?’tanya polos, aih Yu, nggak papa banget malah, ku rengkuh Ayu
ke dalam pelukanku lagi,
‘nggak papa aku seneng malahan
ndengernya ...’jawabku dan ~cup~ Ayu mencium pipiku, aku sampai melongo tak
sadar,
‘mandi sana !!! Mas Anan bauuu
!!’katanya, seraya mencoba smeninggalkanku yang masih terbengong-bengong tak
percaya, ku tarik Ayu ke pangkuanku, ini boleh ya dia kan halal buatku, jadi
jangan iri,
‘Mas Anan ngapain ??’tanyanya, ku
lihat semburat merah di pipinya,
‘jangan
pernah nangis lagi ya Yu....!!! aku nggak suka’ kataku seraya menggenggam
tangannya, Ayu menempelkan dahinya ke dahiku,
‘Iya
Ayu nggak akan pernah nangis karena omongan ibu-ibu sama Polwan sok tahu
lagi..’katanya,
‘I
love you, Nyonya Anan...’kataku seraya mencium kening dan kedua pipinya, Ayu
mecubit pinggangku, aduh sakit juga cubitannya.
Rencana Allah memang selalu indah
akhirnya, mungkin semua doa tidak akan terkabul seketika karena Allah
menggenggam doa kita dan menyerahkannya pada waktu yang tepat.